
Oleh: Redaksi Website Masjid Assegaf (Untuk dipublikasikan di assegaf.mamusda.id)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Tak terasa, pada 17 Agustus 2025 mendatang, bangsa Indonesia akan menapaki sebuah tonggak sejarah yang agung: Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80. Delapan dekade bukanlah waktu yang singkat. Ia adalah rentang panjang yang dipenuhi dengan pengorbanan, perjuangan, air mata, sekaligus harapan yang tak pernah padam.
Bagi kita, kaum Nahdliyin, memperingati hari kemerdekaan bukanlah sekadar seremoni tahunan. Ia adalah sebuah panggilan untuk melakukan refleksi mendalam (muhasabah) tentang hubungan antara keimanan dan kebangsaan, sebuah hubungan yang telah dicontohkan oleh para ulama pendiri bangsa. Semangat ini mengakar kuat dalam sanubari warga Nahdlatul Ulama, sebagaimana fatwa masyhur dari Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari: Hubbul Wathan minal Iman—Cinta Tanah Air adalah bagian dari Iman.
Akar Sejarah: Resolusi Jihad sebagai Fondasi Kecintaan pada Negeri
Saat kita berbicara tentang peran Nahdlatul Ulama dalam kemerdekaan, ingatan kita tak akan pernah lepas dari Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945. Ini bukanlah sekadar seruan perang, melainkan sebuah penegasan teologis bahwa membela tanah air yang sah dari rongrongan penjajah adalah kewajiban agama (fardhu ‘ain) bagi setiap muslim yang berada dalam radius tertentu.
Resolusi Jihad adalah bukti nyata bahwa bagi para kiai dan santri, kemerdekaan Indonesia bukanlah urusan duniawi semata. Ia adalah jihad suci untuk menjaga martabat manusia, melindungi hak beribadah, dan memastikan keberlangsungan dakwah Islam di bumi Nusantara. Api semangat dari Resolusi Jihad inilah yang membakar heroisme para pejuang dalam Pertempuran 10 November di Surabaya dan pertempuran-pertempuran lainnya.
Di usia ke-80 RI, semangat jihad ini harus kita maknai kembali. Jika dahulu jihad berarti mengangkat senjata melawan penjajah, maka jihad kita hari ini adalah jihad melawan kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, perpecahan, dan segala bentuk ancaman yang dapat merusak persatuan dan kesatuan bangsa.
Merawat Indonesia Hari Ini: Spirit Ukhuwah dan Islam Nusantara
Nahdlatul Ulama sejak awal telah menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai kesepakatan luhur bangsa (miitsaaqan ghaliizhaa). Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagi NU adalah bentuk final dari negara yang harus dijaga bersama. Cara NU merawat Indonesia tercermin dalam tiga pilar persaudaraan (ukhuwah):
Tiga pilar inilah yang menjadi jiwa dari konsep Islam Nusantara: Islam yang ramah, moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh). Di tengah maraknya arus ideologi transnasional yang kerap mempertentangkan Islam dan negara, NU konsisten mengajarkan bahwa ber-Islam dan ber-Indonesia adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.
Panggilan untuk Jamaah di Usia ke-80 Kemerdekaan
Menyongsong delapan dekade kemerdekaan Indonesia, ada beberapa panggilan jihad kontekstual bagi kita sebagai jamaah Masjid Assegaf dan sebagai warga Nahdliyin pada umumnya:
Penutup: Doa dan Ikhtiar untuk Indonesia Emas
HUT RI ke-80 adalah momentum emas untuk meneguhkan kembali komitmen kita. Mari kita isi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pahlawan—termasuk para kiai dan santri—dengan amal saleh dan kontribusi nyata.
Kita mulai dari diri sendiri, dari keluarga kita, dan dari komunitas kita di Masjid Assegaf ini. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai ikhtiar kita, memberkahi para pemimpin kita, dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga akhir zaman.
Selamat menyongsong HUT RI ke-80.
Merdeka!
NKRI Harga Mati!
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
| Luas Area | 100 m2 |
| Luas Bangunan | 90 m2 |
| Status Lokasi | Wakaf |
| Tahun Berdiri | 2015 |